Sarwono Kusumaatmadja : Otentik, Sederhana, Easy Going

Cerita ini datang dari speech Ir. Sarwono Kusumaatmadja pada Pelatihan Karakter dan Kepemimpinan Forum Indonesia Muda, 27 Oktober 2012.
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (1988 – 1993), Menteri Negara Lingkungan Hidup (1993 – 1998) dan Menteri Eksplorasi Kelautan (1999 – 2001),
Tujuh pilar Forum Indonesia Muda, dikupas kupas tuntas satu per satu. Salah satunya
Keteladanan dan Kebersahajaan.
Ini juga topik yang paling bikin penasaran. Ya, apa yang bakal diomongin tentang bersahaja, teladan.
Teori? Konsep? Dialektika?. Oh, ngebosenin banget dibayanginnya
. Dan lebih penting lagi, orang kaya apa yang dinilai pantas buat menyampaikan kebersahajaan dan keteladanaan? Dan Forum Indonesia Muda selalu punya referensi dan koleksi yang tepat. Kali ini pun begitu. Tepat! Ini orang yang tepat! Sosok yang di tataran menteri era orde baru, termasuk menteri yang termasuk dalam daftar menteri paling bersih. Nggak neko-neko, bersih dan yap, teladan. Siap-siap kagum dengan beliau. Tokoh yang jarang tersorot media. Karena memang terlalu positif bagi media yang berharap mencari sisi negatifnya. Moderator mulai dengan satu pertanyaan. “
Bersahaja itu apa?”.
*Sepakat!. Dan ya, memang itu intinya. Orang punya mobil mewah, kita kagum. Terpukau. Jadi ingin punya juga. Orang jadi menteri. Kita terpukau. Beliau cerita juga, sekarang bersahaja itu jadi bergeser makna. Karena banyak juga orang yang berlimpah materi, berkalung jabatan, malah memamerkan kesederhanaannya. Misalnya“sebetulnya saya bisa jadi menteri, tapi karena orang lain lebih mau, yasudah”. Kini jadi bias. Lanjut, lebih menarik lagi.
“Gimana caranya menanamkan sahaja ke anak muda di tengah gadget dan fasilitas mewah lainnya”.
*ini bagian favorit.
Pembentukan karakter, dimulai dari percakapan antara anak-orang tua di meja makan. Cerita yang biasa adalah menceritakan orang lain, kejadian, dan kedudukan. Sedangkan cerita atau obrolan yang seharusnya dibangun adalah tentang ide, gagasan dan respon terhadap sesuatu. Anak diajak untuk menilai mana yang benar dan tidak. Mana yang pantas dan tidak. Mana yang positif mana yang negatif. Bercakap dengan produktif dan bermanfaat. Akan jadi anak yang cerdas, berakhlak, dan sehat emosional.
Orang Selalu Ingin Dihitung oleh Orang Lain
“Sederhana aja nggak cukup. Harus punya kelebihan.”.
Itu yang membuat Pak Sarwono bisa enjoy dengan kesederhanaannya. Bisa mengikuti way of life. Tempat tinggal sederhana, kendaraan bukan keluaran terbaru. Bahkan tinggal di rumah kontrakan. Menurutnya, ngapain hidup di tengah harta yang harus dijagain? Ya, karena orang selalu ingin dihitung oleh orang lain. Diperhitungkan dan dianggap ada, sederhana aja nggak cukup. Harus punya kelebihan. Tapi, tetap tenang dengan kelebihannya. Punya kemampuan, keterampilan, atau kecerdasan. Kenapa orang bermewah-mewah? Kemeja mahal, celana licin, rambut klimis, jam tangan impor, tas branded. Karena dirinya merasa ngga istimewa. Jadi harus ada yang diperhatikan biar jadi istimewa.
Menteri yang Lahir dengan Kekurangan Motorik
Bagi orang besar. Menceritakan kekurangannya, masa lalunya yang kurang baik, sangat jarang dilakukan. Bahkan beberapa berusaha menghapusnya. Tapi Pak Sarwono nggak. Beliau ceritakan pengalaman hidupnya. Beliau lahir dengan kekurangan motorik. Dokter Sarwono (yang jadi inspirasi nama Sarwono) berjanji berusaha melahirkan janinnya. Namun dokter berkata pada orang tua Pak Sarwono.
“Jangan berharap banyak dari anak ini setelah lahir. Kemungkinan akan punya kekurangan motorik”.
Beliau ceritakan masa kecilnya umur lima tahun. Gerakan tangan dan kakinya tidak dapat Ia kendalikan. Berjalan atau lari, sedikit saja bisa tersandung. Bisa jatuh.
“Orang tua larang saya main di kebun, larang saya berenang, naik sepeda. Sampai bilang, awas papaya jatuh ke kepalamu. Gawat”.
“Saya tidak terima dengan keadaan ini”.
Pada usia enam tahun, Beliau diajak pamannya yang melihat, ada bakat yang tersimpan dari diri Pak Sarwono. Akhirnya beliau ikut pamannya ke Inggris. Bersekolah disana. Diam-diam selama di Inggris, di kamar belajar berjalan yang betul, dan berlari. “Saya berjalan kaya pinokio, boneka kayu. Gerakan saya kaku ”. Tapi Beliau tuturkan, tidak mau bergelut dengan kekurangannya. Apalagi kalo orang lain tahu”. Banyak orang terobsesi menutupi kekurangannya. Missalnya saja operasi plastik, rebonding, dan sebagainya. Malah tidak fokus dengan kelebihan yang dipunyai. Maka, berbagilah kelebihan yang kamu punya. Perkuat modal yang kamu punya.
Hidup, Gimana Betahnya Aja.
Ya, yang penting kecukupan. Itu prinsip tokoh yang pernah 3 kali menjadi menteri ini.
“3 kali jadi menteri. Nggak diangan-angan. Tidak dikejar. Kalo percaya, hadapi, jalani”.
Beliau sangat arif dalam mendidik anaknya. Sosok teladan bagi orang disekitarnya. Beliua ceritakan pengalamannya saat menjadi menteri. Suatu kali menghadiri summit di Sheraton pada tahun 80an. Di halaman parkir, jeepnya, taft, terparkir diantara mobil-mobil mewah keluaran terbaru. Saat mau ambil mobil, salah satu pemilik mobil menyapanya dengan anggukan dan salam sambil membungkukan badan.
“Ngapain dia punya mobil mewah, ngeliat orang pake taft malah nunduk-nunduk. Harusnya bangga dong”.
Anak-anaknya dididik untuk tidak menggunakan title ayahnya. Anak bungsunya, yang tidak pernah mengalami masa sulit ayahnya, paling konsen diajari. Beliau suruh anaknya yang akan lulus kuliah kurang dari empat tahun, untuk cuti akademik satu tahun sebelum lulus. Anaknya kemudian melamar kerja kemana-mana. Dan dapatlah jadi pelayan di toko buku. Setiap hari harus naik angkot dua kali. Berangkat jam 8 pagi. Pulang jam 10 malam. Sampai akhirnya berhenti kerja setelah pimpinan toko buku tahu orang tuanya adalah Pak Sarwono.
“Apa urusannya kerja di toko buku, sama ini anak saya”
Pernah anak sulungnya ngamen di bus kota. Sebetulnya bukan ngamen. Baru pulang dengan teman-temannya. Bawa perkusi, main di dalam bus. Banyak orang kasih uang. Beliau tidak larang anaknya, hanya berpesan, “Ngamen di bus itu persaingan nggak sehat. Orang lain ngamen di bus buat sambung hidup”. Lebih seru lagi. Anak bungsunya ditantang pergi ke Ambon. Biar merasakan jadi orang biasa. Kenali tipe orang Ambon. Saat itu tahun 90an. Untuk tinggal di Ambon selama 3 tiga minggu, hanya dibekali uang Rp 500 ribu. Dan syaratnya, ubah KTP. Jangan bawa nama Kusumaatmaja. Anaknya akhirnya tidur di masjid, stasiun, dan emperan toko. Sampai kehabisan uang. Kemudian lain waktu diminta kesana lagi, pakai nama Kusumaatmaja.
“Gimana dengan nama itu? Beda Ayah, semua orang jadi baik, disuruh tinggal di tempat bupati, kapolres, dikasih mobil dinas juga buat jalan-jalan”.
Pengalaman anaknya ke daerah pinggir Indonesia, Papua membawa pertanyaan.
“Yah, kita harus definisikan lagi artinya kecerdasan” .
Anaknya cerita, Pulang-pulang kena penyakit kulit, borokan. Kenapa orang disana, sanitasi jelek, makan seadanya, tinggal di hutan. Ngga kena penyakit kulit. Tapi orang kota, berpendidikan, kesana beberapa hari. Kulit kaki penuh borok gini.
“Ngga dipungkirin, ngga ada orang sukses kaya terus”
Jadi pejabat itu tantangan. Gimana jadi bermanfaat buat orang lain lewat kebijakan yang dia buat. Renanakanlah karyanya, bukan jabatannya.

Komentar