#5 l SEMNAS l JD2014 l Media di Masa Pemilu

Media di Masa Pemilu

Pers bisa mendukung seseorang, berdasarkan keyakinan pada suatu ide. Bukan karena satu golongan atau karena satu kepentingan. Berdasarkan keyakinan pada suatu ide baik. Contohnya saat konvensi partai Golkar tahun 2004 dan Tempo membuat cover story ‘Ayo Caknur’ karena sesuai dengan nilai antikorupsi, pluralism. Kita tahu caknur tidak akan menang dalam konvensi itu. Kita menganggap caknur penting ikut konvensi. (Budi Setyarso, Tempo).

Pemilu legislatif 2014 lalu, kita angkat 11 caleg yang dianggap baik. Kita yakini memiliki kriteria antikorupsi, tegakkan HAM dan pluralisme. Kita tulis dalam laporan utama. Sebagian besar mereka tidak terpilih dalam pemilihan. Kita anggap calon bagus itu yang seperti mereka. Walaupun akhirnya hanya 2 atau 3 yang terpilih.
Pers menulis segala hal yang perlu diketahui oleh public tentang tokoh-tokoh yang terlibat dalam pemilu. (Budi Setyarso)
Tujuannya masyarakat memiliki informasi yang kuat dalam menentukan pilihan. Kita ambil sikap untuk tidak netral. Dari berbagai tulisan edisi Prabowo, kita menyajikan argumentasi, tulis opini dari track record dan retorika yang diberikan, masyarakat bisa menilai apakah ini sekedar jargon atau bisa dipercaya. Aburizal bakrie. Semua berita yang kita tulis, basisnya adalah independen, tidak memihak berdasarkan golongan tetapi pada nilai. (Budi Setyarso, Tempo).

Pemilu kali ini ada kasus yang mengusik kerja para jurnalis. Korannya Golkar tapi baik sama Jokowi. Pimrednya diancam, kalo tidak loyal, silahkan mengundurkan diri. Redaksi vivanews.com akhirnya pada mengundurkan diri sebelum ayam berkokok. Sekarang pers sudah maju dalam dua hal. Wartawannya cerdas. Pers banyak melahirkan informasi yang bagus. Redaksinya oke. Pembacanya nih, meragukan. Percaya sama pers bagus atau pers jelek. (Wimar Witoelar) 

Studi efek kampanye terhadap preferensi orang untuk memilih. Adakah efek? Ternyata kampanye ngga ada efeknya di Amerika. Orang sudah punya predisposisi. Kalo kulit putih, protestan, akan republikat. Katolik, tinggal di utara, akan jadi demokrat. Lebih ke orientasi  kandidat. (Philips Vermonte)

Berdasarkan pengamatan Indonesian Institute, monitoring media selama kampanye tanggal 16 maret-12 April 2014. Kompas, MI, Sindo, vivanews, dst. berebut soal lembaga survey. Hasil monitoring, berita tentang survey dan lain-lain hanya berpengaruh 2% terhadap preferensi pemilih. Pemilih kita sebagian besar bukan kelas menengah. Masyakat dengan tingkat pendidikan di bawah 9 tahun lebih dari 50 persen. Kita tidak punya studi establish tentang efek media terhadap preferensi. Agregat, paling banyak mendapat berita selama pemilu 2014 adalah PDIP sebanyak 26 persen disusul Parta Demokrat 13 persen dst. Artinya, makin banyak dapet berita, opini tergalang. Ternyata perolehan suara Wiranto dan Hanura kecil hanya enam persen. Masyarakat makin cerdas atau pemberitaan secara gencar di media tidak berefek? (Philips Vermonte).

Kemenangan PDIP ada banyak faktor. Elektoral dan faktor jokowi. Melihat pemilu 2004, dengan elektabilitas 60 persen, SBY hanya bisa menang 20 persen suara. Sementara jokowi dengan elektabilitas 30 persen mungkin dibawah itu. PDIP menang karena mesin politik di bawah. Menang di Jawa Barat peringkat dua. Di Sumatera Utara kemudian di Bali hanya selisih beberapa ratus suara. PDIP menang tapi kaya orang kalah pemilu saat 9 April lalu. Sebuah partai opisisi 10 tahun, 2 periode itu militansi kader dan simpatisan. Naik suara 5 persen setelah jadi oposisi dan kalah dua periode merupakan prestasi electoral. Dari 2009 naik dari 14% kemudian  menjadi 19% pada 2014.  (Philips Vermonte)

Independensi harus dijaga selama Pemilu. Kesalahan-kesalahan dihindari dengan menjalankan prinsip jurnalisme yaitu konfirmasi dan verifikasi. Konfirmasi setelah berita diterbitkan. Kita sampe nginep, tungguin rumahnya, tidak pernah via sms atau telepon. Secara prinsip pemberitaan benar, kita tidak takut pengadilan. Kita tidak takut kalah dengan pengadilan yang korup. Jangan tonton berita hanya dari satu stasiun televisi. Berkah tertinggi keebasan pers adalah mendapat informasi dari berbagai sumber. Bisa mendapat banyak informasi. (Budi Setyarso).

-Seminar Nasional - BOE Economica FE UI Jurnalist Day 2014-


Komentar